Perpustakaan

Kembali ke katalog
Kode Buku : 00773
Call Number : 899 TOH r
Jumlah : 1
Sisa : 1
Judul Buku : Ronggeng Dukuh Paruk
Judul Asli :
Kategori : Sastra
Kota Terbit : Jakarta
Penerbit : 000008 Gramedia
ISBN : 9789792201963
Tahun Trebit : 2007
Desk Fisik : cet.3,408hlm.
Ciri Lain :
Dimensi : 21cm.
Bibliografi :
Bahasa : Indonesia
Anak Judul :
Pengarang : Ahmad Tohari
Edisi :
Seri :
Catatan :
Format : Buku
Jenis :
Ringkasan : Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan novel pertama dari trilogi tersebut membuka ceritanya dengan mendeskipsikan suatu keadaan sebuah perkampungan di daerah Jawa. Kampung tersebut memiliki suatu kebiasaan yang menjadi ciri khasnya, yaitu ronggeng. Cerita dimulai ketika Dukuh Paruk dengan segala kecabulan dan keterbelakangannya sudah selama hampir belasan tahun kehilangan seorang ronggeng. Ronggeng adalah suatu kebanggaan di Dukuh Paruk. Perempuan yang meronggeng tidak akan dianggap sebagai perempuan jalang. Justru mereka akan sangat bangga apabila ada salah satu dari keluarga mereka menjadi seorang ronggeng. Maka selama hampir belasan tahun tanpa ronggeng, Dukuh Paruk serasa mati. Dukuh Paruk tidak pernah menyalahkan keberadaan ronggeng karena leluhur mereka, Ki Secamenggala tidak pernah juga menyalahkannya. Ki Secamenggala dianggap sebagai orang yang pertama kali menduduki Dukuh Paruk. Menurut kepercayaan warga Dukuh Paruk, Ki Secamenggala adalah orang yang terasingkan dari lingkungan masyarakat sekitar karena kecabulannya, entah itu dalam berkata atau dalam berpikir. Namun, tidak seorang pun dari warga Dukuh Paruk yang menyalahkan sikap Ki Secamenggala tersebut. Mereka justru sangat menghormati keberadaan Ki Secamenggala. Itulah yang menjadi alasan mengapa hingga bertahun-tahun lamanya Dukuh Paruk tetap berada dalam kecabulannya. Mereka senantiasa merindukan tarian ronggeng dan irama musik yang acapkali mereka dengar dulu, sebelum ronggeng dukuh paruk kehilangan keberadaannya. Sekitar sebelas tahun lalu, Dukuh Paruk digemparkan dengan racun tempe bongkrek yang dibuat oleh sepasang suami istri, Santayib dan istrinya. Tempe bongkrek yang sering dibuatnya untuk kali itu menyebabkan kematian pada banyak penduduk yang memakannya termasuk Santayib dan istrinya. Hanya beberapa yang masih bertahan hidup sementara sisanya tidak tertolong lagi. Siapa yang tahu, bahwa kemudian anak dari pembuat tempe bongkrek yang menggemparkan warga sekampung itu adalah calon ronggeng. Ia lah Srintil, gadis kecil berusia sebelas tahun. Dengan kepercayaan bahwa Srintil telah dirasuki indang ronggeng, Srintil menjadi ronggeng dalam usianya yang baru sebelas tahun. Tidak ada yang dianggap sebagai pertentangan dengan norma apapun ketika seorang anak yang sepantasnya bersekolah, bermain, dan dilindungi orang tua berlenggak-lenggok menari erotis dengan tatapan menggoda sebagai seorang ronggeng. Mungkin hanya Rasus yang merasa tidak rela ketika Srintil disahkan menjadi ronggeng dan dimiliki oleh semua warga Dukuh Paruk. Rasus merasa ada yang diambil dari dirinya ketika Srintil dimiliki semua orang. Terlebih ketika Srintil harus menjalani malam buka kelambu, suatu persyaratan yang harus dipenuhi Srintil sebelum akhirnya dinyatakan sebagai seorang ronggeng dukuh paruk. Rasus kehilangan sosok yang dihormati pada diri Srintil. Rasus memutuskan pergi dan menjadi seorang tentara. Pada saat ia kembali ke Dukuh Paruk setelah berusia dua puluh tahun, Rasus mencoba melihat kewajaran pada pemahaman yang dimiliki Dukuh Paruk terhadap ronggeng, termasuk kewajaran pada kebanggaan Srintil sebagai seorang ronggeng. Rasus memutuskan pergi kembali untuk bergabung bersama tentara lainnya dengan pemahaman yang dibawanya bahwa Dukuh Paruk dengan segala keasliannya tidak akan pernah bisa diubah sampai kapan pun. Maka Dukuh Paruk akan tetap dengan ronggeng dan kecabulannya.